Harga Kedelai Selangit, Perajin Tempe Menjerit

Berita Ekonomi Pemerintahan

KENDAL – Puluhan perajin tahu tempe di Kendal saat ini sedang kembang kempis. Mereka ibarat mati segan hidup pun tak mampu. Hal ini disebabkan karena harga kedelai sebagai bahan baku utama terus naik.

Salah seorang perajin Ali Mas’udi asal Kebonharjo, Patebon, mengatakan, harga kedelai mulai merambat naik pada akhir tahun lalu. Semula harganya sekitar Rp 7.500/kg dan kini menjadi Rp 10.000/kg. ‘’Dengan kenaikan itu kami tidak bisa berbuat banyak,’’ tutur Ali, kemarin.

Ditambahkan Ali, dengan harga kedelai yang mahal, para perajin banyak yang mengurangi produksi.  Dia biasanya memproduksi sekitar tiga kwintal per hari, tapi kini hanya 2,5 kwintal per hari. ‘’Dengan harga Rp 10.000 sangat berat bagi pengrajin untuk bisa bertahan. Keuntungan yang didapatkan sangat sedikit,’’ tambah dia.

Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kendal, Tardi ketika dikonfirmasi terpisah, mengatakan, selama ini pemerintahan tidak mampu menyediakan kedelai. ‘’Kedelai yang ada dipasaran sebagian besar didatangkan dari luar negeri atau impor,’’ jelasnya.

Menurut Tardi, sebenarnya Kendal memiliki sentra kedelai, yakni di Kecamatan Kangkung dan Kecamatan Gemuh. Tapi, karena penanaman kedelai belum dibarengi dengan teknologi pertanian, sehingga hasilnya kurang memuaskan. Kedelai kalah dengan komoditi lain seperti jagung. ‘’Ini yang menyebabkan petani enggan menanam kedelai,’’ kata dia. (guh-21)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *