Polres Ringkus Pelaku Orderan Fiktif

Berita Hukum
KENDAL – Satreskrim Polres Kendal meringkus pelaku orderan fiktif yang dalam dua tahun terakhir meresahkan warga Desa Jungsemi, Kecamatan Kangkung, Kendal. Tersangka bernama Novi Wahyuni (22) warga Desa Sidorejo, Kecamatan Karangawen, Demak. Tersangka melakukan orderan fiktif dan dikirimkan kepada warga di Desa Jungsemi. Orderan itu kerap di atas namakan kepada Titik Puji Rahayu yang merupakan teman dekat pelaku.
Kapolres Kendal AKBP Ali Wardana mengatakan, terbongkarnya kasus itu setelah polisi menerima laporan dari sejumlah korban. Petugas melakukan penyelidikan selama beberapa hari dan berhasil meringkus Novi. ‘’Tersangka kami amankan di tempat tinggalnya di Kota Semarang,’’ kata dia dalam gelar perkara di Polres Kendal, Senin (3/8).
Ali mengatakan, modus tersangka dengan memesan barang menggunakan nama Titik maupun tetangganya. Namun, setelah barang dikirim, tidak terdapat satupun warga yang memesannya. Berbagai barang yang dikirim antara lain ponsel, buah-buahan, sayuran, hingga perabotan rumah tangga. ‘’Tersangka menggunakan belasan nomor telepon dan memakai berbagai nama untuk melancarkan aksinya,’’ terang dia didampingi Kasatreskrim AKP Aji Darmawan dan Kasubag Humas AKP Sukarsa.
Novi mengatakan, aksi itu dilakukan seorang diri. Dia mengaku memiliki dendam peribadi terhadap Titik. Selama dua tahun, ia melakukan puluhan kali orderan fiktif yang ditujukan kepada Titik dan tetangganya. ‘’Saya dendam karena korban pernah meminta orang lain memukul saya. Padahal saya sangat dekat dengan Titik,’’ ucapnya.
Tersangka mengaku, untuk meyakinkan, beberapa pesanan dia beri uang muka dan sisanya akan dibayar ketika barang sampai. Ada juga yang menjanjikan pesanan akan dibayarkan setelah pesanan sampai tujuan. ‘’Saya menggunakan akun media sosial palsu dan belasan nomor telepon,’’ kata dia.
Karena perbuatannya tersangka dijerat Pasal 51 junto Pasal 35 atau Pasal 45 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dengan hukuman 12 tahun penjara. (KK–)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *